Contoh Best Practice PKP Mapel IPS

Posted on

Best Practice Mapel IPS – Best practice adalah sebuah tugas akhir yang diberikan untuk peserta diklat PKP berbasis zonasi,  untuk SD ataupun  SMP laporan ini harus disusun sesuai dengan sistematika penulisan pada junkis PKP 2021.



Supaya lebih mudah dalam menyusun laporan ini maka seorang guru mapel pastinya akan membutuhkan format dan contoh best practice PKP untuk dijadikan sebagai referensinya. Laporan best practice ini harus dibuat dalam 2 versi, yaitu soft copy dan hard copy. Soft copy atau file nantinya akan diunggah sebagai tagiah portofolio pada lms PKP, sedangkan hard copy atau print out dibuat berupa makalah dan dilaporkan kepada guru inti.

Bagi Bapak/Ibu guru yang sekarang ini sedang membutuhkan contoh best pratice PKP mapel IPS 2020 / 2021  untuk dijadikan sebagai sebagai referensi, silahkan Anda lihat dan unduh pada artikel berikut ini.

Baca juga: Best Practice PKP Matematika

Contoh Best Practice PKP Mapel IPS

Contoh best pratice PKP yang kami bagikan kali ini adalah mapel IPS untuk SMP tahun 2020/2021. Untuk mapel yang lainnya seperti IPS, PPKn, Bahasa Indonesia, Agama, Matematika, dan Bahasa Indonesia akan kami berikan pada artikel selanjutnya. Untuk lebih jelasnya silahkan langsung saja simak contoh laporan best practice PKP ini.

KATA PENGANTAR



Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan best practice dengan judul “Proses Pembelajaran Hots Melalui Program PKP Materi Perubahan Sosial Budaya dan Globalisasi Kelas IX Dengan Model Discovery Learning Di SMPN 3 Purbalingga”.

Melalui laporan best practice ini, penulis akan membagikan pengalaman saat melakukan proses pembelajaran IPS di sekolah. Pada best practice ini, penulis juga akan menjelaskan mengenai langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran IPS yang menyenangkan, menghidupkan suasanan kelas, sehingga pembelajaran yang dilakukan dalam kelas tidak akan terasa membosankan.

Penyusunan best practice ini dapat terselesaikan tentunya dengan adanya bantuan dari berbagai pihak. Penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis secara langsung ataupun tidak langsung selama proses penyusunan best practice ini.

Penulis juga menyadari bahwa dalam pembuatan laporan best practice ini masih banyak kekurangan dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki oleh penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sehingga bisa menjadikan penulis untuk lebih baik lagi, dan demi kesempurnaan penyusunan laporan best practice selanjutnya.

BAB 1

PENDAHULUAN



Mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) mengarahkan peserta didik supaya menjadi seorang warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggungjawab, serta warga dunia yang cinta damai. Nilai-nilai penting ini harus selalu ditanamkan pada peserta didik, baik saat duduk di bangku sekolah dasar (SD) ataupun sekolah menengah pertama (SMP). Namun sebaiknya ditanamkan saat mulai memasuki usian remaja, yaitu berusia mulai dari 15 sampai 21 tahun atau kelas VIII SMP hingga universitas semester awal. Kelas VIII SMP merupakan usia yang dianggap paling tepat untuk mewakili usia remaja awal dalam memperoleh bekal nilai-nilai tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban sebagai seorang warga negara yang mematuhi hukum dan peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah.

Penyusunan mata pelajaran IPS dilakukan secara sistematis, komprehensif, dan terpadu saat proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan bersmasyarakat. Pada implementasinya, tujuan utama mata pelajaran IPS bisa didapat dengan optimalisasi semua komponen pembelajaran seperti tujuan pembelajaran, peserta didik, pendidik atau guru, materi dan media pembelajaran, strategi, sumber belajar, dan evaluasi. Komponen-komponen dalam pembelajaran ini saling berkaitan dan dapat memberikan pengaruh antar satu sama lain sehingga biasa disebut dengan sistem.

Komponen pembelajaran sudah pasti harus meliputi seluruh aspek, mulai dari aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, bisa diterapkan dengan mudah dan harus saling berkaitan dengan permasalahan yang dihadaai oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat. Permasalahan yang dihadapi tersebut sudah pasti bisa menjadi konteks bagi peserta didik dalam belajar sehingga bisa berpikir secara kritis, mampu memecahkan masalah, dan mendapat pengetahuan. Akan tetapi, permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik biasanya tidak terstruktur dengan baik bahkan mereka tidak menyadari bahwa ternyata permasalahan tersebut bisa saja dijadikan sebagai bahan dalam membangun pengetahuannya. Pembelajaran berbasis masalah saat melaksanakan pembelajaran IPS sangat memungkinkan peserta didik untuk mengumpulkan, mengintegrasikan dan menerapkan pengetahuan baru degan melalui permasalahan yang sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *