Contoh Proposal PTK SMA

Contoh Proposal PTK SMA – Penyusunan proposal atau usulan penelitian merupakan sebuah langkah awal yang dilakukan oleh peneliti sebelum melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK). Proposal penelitian tindakan kelas PTK akan membantu memberi arah kepada peneliti agar bisa menekankan kesalahan yang mungkin saja terjadi selama penelitian sedang berlangsung.

Proposal penelitian tindakan kelas ini harus disusun secara sistematis dan logis sehingga bisa dijadikan pedoman yang mudah untuk diikuti. Proposal penelitian tindakan kelas adalah gambaran secara detail tentang proses yang akan dilakukan oleh peneliti (guru) untuk mengatasi masalah dalam pelaksanaan tugas (pembelajaran).

Pengertian Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Proposal penelitan atau yang biasa disebut dengan usulan penelitian adalah sebuah pernyataan tertulis mengenai rencana atau rancangan kegiatan penelitian secara menyeluruh. Proposal penelitian tindakan kelas (PTK) ini berhubungan dengan pernyataan atas nilai pentingnya penelitian. Membuat proposal penelitian tindakan kelas ini bisa dibilang merupakan langkah yang sangat sulit tetapi juga menyenangkan di dalam tahapan proses penelitian.  Nah, untuk lebih jelasnya berikut ini kami akan memberikan contoh proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Contoh Proposal PTK

Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris Siswa kelas X1 SMAN 1 Cibubur Melalui Story Telling

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu kunci pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, baik itu dari aspek pengetahuan, aspek sikap ataupun aspek psikomotorik. Kualitas baik ini bisa dicapai dengan adanya lembaga pendidikan. Di Indonesia sendiri, lembaga pendidikan formal tertinggi adalah jenjang Perguruan Tinggi. Melalui lembaga pendidikan formal tersebut Pemerintah telah memfasilitasi sarana prasarana yang bersifat fisik ataupun non fisik seperti mata pelajaran yang disediakan untuk mendukung pendidikan nasional.

Meskipun prasarana telah disediakan, tetapi masalah pendidikan terus terjadi, baik itu masalah pendidikan nasional ataupun masalah pada tingkat satuan pendidikan itu sendiri. Mulai dari masalah kurikulum, tenaga pendidikan yang masih belum rata, biaya pendidikan yang cukup tinggi, gedung sekolah yang tidak memadai, dan lain sebagainya.

Begitu juga dengan masalah-masalah yang terjadi di SMAN 1 Cibubur. Berdasarkan observasi yang sudah dilakukan, di sekolah tersebut mengalami banyak masalah. Mulai dari bangunan sekolah yang belum memadai, hal ini bisa kita lihat dari sempitnya lahan sekolah yang membuat sekolah ini nampak bukan seperti sekolah pada umumnya. Masalah lainnya adalah kebersihan sekolah yang kurang baik, banyak sekali sampah yang berserakan karena tidak dibuang pada tempatnya, kamar mandi yang tidak bersih, dan banyaknya coretan-coretan yang ada di meja para siswa. Selain itu, kedisiplinan  siswa juga kurang baik, hal ini bisa dilihat dari banyaknya siswa yang tidak disiplin dalam memakai seragam sekolah, banyak yang terlambat masuk kelas.

Selain nilai kedisiplinan yang masih kurang baik, ada pula nilai-nilai lain yang tidak diterapkan dengan baik di sekolah tersebut. Seperti misalnya nilai kesopanan, banyak sekali siswa yang kurang meghormati para Guru ataupun karyawan sekolah. Hal ini dapat kita lihat ketika Guru sedang mengajar, ada beberapa siswa yang ramai, gaduh, dan bahkan makan dikelas. Nilai prestasi di SMAN 1 Cibubur juga tidak dapat terlaksana dengan baik, ini bisa bisa dilihat dari rendahnya minat baca para siswa, terbukti dengan sepinya Perpustakaan sekolah. Berdasarkan hasil dari wawancara yang telah dilakukan, masih banyak sekali lulusan sekolah ini yang menjadi pengangguran. Kalaupun ada yang melanjutkan ke tingkat Perguruan Tinggi jumlahnya sangat sedikit.

Masalah yang berhubungan dengan mata pelajaran juga terjadi pada sekolah ini. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, peneliti pernah ikut masuk ke dalam kelas X1 di SMAN 1 Cibubur dan bertepatan dengan mata pelajaran bahasa.Inggris. Masalah yang terkait dengan kegiatan mata pelajaran bahasa Inggris pada kelas X1 ini adalah banyak diantara mereka yang masih belum bisa berbicara menggunakan bahasa Inggris. Hal ini terbukti saat guru mengajak mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, banyak diantara mereka yang tidak bisa menanggapi dan bahkan tidak paham apa yang dijelaskan oleh Guru. Ketidakmampuan ini dikarenakan mereka tidak terbiasa berkomunikasi mengunakan bahasa Inggris, metode pengajaran Guru yang tidak tepat, dan lingkungan mereka yang kurang mendukung.

Berdasarkan wawancara yang  telah dilakukan dengan Guru mata pelajaran bahasa Inggris, didapat informasi bahwa nilai rata-rata bahasa Inggris siswa kelas X11 masih belum mencapat standar nilai minimal yang sudah ditentukan. Disamping itu, masih banyak sekali siswa yang belum fasih dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Maka dari itu, dari masalah-masalah yang ada di SMAN 1 Cibubur, penelitian ini akan sangat berguna untuk memecahkan masalah-masalah tersebut.

Baca juga : Contoh Proposal PTK PAUD

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah terdapat masalah-masalah, diantaranya :

  • Masih banyak sekali masalah yang terjadi dalam pendidikan nasional
  • Bangunan sekolah SMAN 1 Cibubur yang sangat sempit
  • Rendahnya nilai kedisiplinan, nilai kebersihan, nilai kesopanan siswa-siswa di SMAN 1 Cibubut
  • Rendahnya minat baca siswa-siswi SMAN 1 Cibubur
  • Masih kurangnya kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris siswa-siswi kelas X1 SMAN 1 Cibubur
  • Metode pengajaran Guru yang masih belum terlaksana dengan tepat

C. Batasan Masalah

Dengan adanya beberapa identifikasi masalah, maka peneliti akan lebih fokus untuk meneliti tentang Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris Siswa Kelas X1 SMAN 1 Cibubur Melalui Story Telling

D. Rumusan Masalah

Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa kelas X1 SMAN 1 Cibubur ?

E. Tujuan

Berdasarkan masalah yang sudah diidentifikasi dan dirumuskan, maka tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris kelas X1 SMAN 1 Cibubur.

F. Manfaat

  1. Manfaat bagi sekolah
  • Memberikan kontribusi bagi SMAN 1 Cibubur terkait dengan inovasi baru mengenai stroy telling
  1. Manfaat bagi guru
  • Memberikan masukan atau metode yang baru tentang mata pelajaran bahasa Inggris melalui story telling
  • Membantu Guru dalam mengajar di dalam kelas dengan metode yang lebih mudah dan menarik
  1. Manfaat bagi Siswa
  • Membantu siswa untuk dapat meningkatkan kemampuan berbicara menggunakan bahasa Inggris melalui metode yang jauh lebih mudah yaitu Story Telling.

BAB II

Kajian Teori

A. Keterampilan Berbicara

Kemampuan dalam berbicara dimiliki oleh setiap manusia. Akan tetapi, keterampilan berbicara di depan orang banyak belum tentu dimiliki oleh setiap orang. Pembicara harus bisa mengembangkan teknik-teknik untuk persiapan, untuk menyusun struktur pembicaraan, untuk menularkan ego dan semangat, dan juga untuk menangkap dan menanggapi minat pendengar. Dasar suatu pembicaraan yang paling efektif adalah persiapan yang kompeten. Di zaman sekarang ini semua orang dituntut untuk bisa terampil dalam berbicara ( Bill Scott, 1987 : 5).

Keterampilan berbicara adalah suatu kemampuan dalam mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik itu secara berhadapan atau dari jarak jauh. Moris dalam Novia (2002) menyebutkan bahwa berbicara adalah alat komunikasi yang alami antara anggota masyarakat untuk dapat mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk tingkah laku sosial. Sedangkan, Wilkin dalam Maulida (2001) menyebutkan bahwa tujuan dari pengajaran bahasa Ingris dewasa ini adalah untuk berbicara. Lebih jauh lagi Wilkin dalam Oktarina (2002) menyebutkan bahwa keterampilan bebicara adalah menyusun kalimat-kalimat karena komunikasi akan terjadi melalui kalimat-kalimat untuk menampilkan perbedaan tingkah laku yang sangat bervariasi dari masyarakat yang berbeda.

Komunikasi atau berbicara dalam bentuk diskusi dalam proses belajar mengajar akan berlansung sangat efektif, baik antar pengajar dengan pelajar ataupun diantara para pelajar sendiri, karena mekanismenya memungkinkan si pelajar terbiasa menyampaikan pendapat secara argumentative dan bisa mengkaji dirinya, apakah yang sudah diketahuinya benar atau tidak . (Onong Uchjana E, 1994 : 102).

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research), bersifat partisipan. Madsudnya yaitu bahwa orang yang akan melakukan tindakan harus juga terlibat dalam proses penelitian dari awal. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model penelitian tindakan yang dikemukakan oleh Kemmis dan Teggart (Suwarsih Madya,1994:27)

Adapun proses penelitian tindakan model kemmis dan teggart adalah

  1. Perencanaan pertama
  2. Tindakan pertama
  3. Pengamatan pertama (Observe 1)
  4. Refleksi pertama
  5. Revisi terhadap perencanaan pertama
  6. Tindakan kedua (Observe 2)
  7. refleksi kedua

B. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Galur, di kelas X pada semester ganjil bulan Oktober sampai November 2012.

C. Subyek dan Obyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMA N 1 Galur. Sedangkan objek dari penelitian ini adalah penerapan storytelling, untuk meningkatkan kemampuan berbicara bhs. Inggris siswa.

D. Sumber Data

Data yang digunakan adalah data kualitatif, berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari hasil observasi dan wawancara. Data sekunder diperoleh dari dokumentasi yaitu dari lembaga atau organisasi yang bersangkutan sebagai data tambahan.

E. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif. Dalam penelitian kolaboratif, pihak yang melakukan tindakan adalah Guru mata pelajaran bhs. Inggris untuk kelas X. Sedangkan yang melakukan melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti. Penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart, yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Menurut Kemmis dan Taggart ada beberapa tahapan dalam penelitian ini (Rochiati Wiriaatmadja, 2005:66) yaitu:

Perencanaan (plan)
Tindakan (act)
Pengamatan (observe)
Refleksi (reflect)

F. Tahapan Penelitian
Tahapan Penelitian Siklus I

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan rencana pelaksanaan program model pembelajaran storytelling :

1) Melakukan izin terhadap pihak Sekolah dan Guru mata pelajaran terkait untuk menerapkan model storytelling dalam mata pelajaran bhs. Inggris

2) Peneliti melakukan wawancara terhadap Guru bhs.Inggris dan para siswa

3) Peneliti berkoordinasi dengan Guru bhs.Inggris kelas X terkait dengan tempat dan waktu penelitian

4) Peneliti menyiapkan tema atau topik untuk diterapkan dalam storytelling nanti

5) Peneliti melakukan koordinasi dengan kolaborator, yaitu Guru pengampu mata pelajaran bhs.Inggris kelas X terkait dengan tema dan bagaimana pelaksanaan model storytelling nanti pada saat KBM berlangsung

6) Peneliti menyiapkan lembar pedoman observasi dan wawancara yang dibutuhkan dalam penelitian

Tahapan Penelitian Siklus II
Rencana tindakan siklus II dimaksudkan sebagai hasil refleksi dan perbaikan terhadap pelaksanaan program pada siklus I. Tahapan tindakan pada siklus II mengikuti tahapan tindakan siklus I.

G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:

  1. Observasi
  2. Wawancara
  3. Dokumentasi

H. Instrumen Penelitian

  1. Peneliti
  2. Lembar Observasi
  3. Pedoman wawancara
  4. Dokumentasi
  5. Catatan Lapangan
  1. I.       Teknis Analisis Data

Teknis analisis data yang digunakan adalah reduksi data yaitu kegiatan pemilihan data, penyederhanaan data serta transfomasi dari hasil catatan lapangan. Penyajian data berupa sekumpulan informasi dalam bentuk tes naratif yang disusun, diatur dan diringkas sehingga mudah dipahami. Hal ini dilakukan secara bertahap kemudian dilakukan penyimpulan dengan cara diskusi bersama mitra kolaborasi. Untuk menjamin pemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dicatat dalam penelitian digunakan triangulasi. Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.

  1. J.      Validasi Data

Peneliti dalam memeriksa validitas dan reliabilitas data dengan menggunakan teknik triangulasi dan membercheck , triangulasi sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Dalam penelitian ini triangulasi dilakukan dengan  pedoman observasi, pedoman wawancara dan catatn lapangan (field note). Sedangkan membercheck dilakukan dengan mengulang garis besar apa yang diungkapkan oleh informan pada akhir wawancara guna memastikan kembali data yang diperoleh dari hasil wawancara dan mengoreksi bila ada kesalahan serta menambah apabila terdapat beberapa kekurangan.

DAFTAR PUSTAKA

–          Effendy, Onong.1994.Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek.Bandung:PT Remaja

            Rosdakarya.

–          Wassid, Iskandar.2011.Strategi pembelajaran bahasa.Bandung:PT Remaja Rosdakarya

–          Ahmad Asep hidayat. 2006. Filsafat bahasa mengungkapkan hakikat bahasa, makna, dan

             tanda.Bandung : PT Remaja Rosdakarya

–          Wiriatmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Rosdakarya

Lampiran

Pedoman wawancara

Guru   :

  1. Bagaimana antusias para siswa ketika KBM mata pelajaran bhs. Inggris berlangsung dengan menggunakan strategi pembelajaran storytelling?
  2. Bagaimana keaktifan siswa di kelas dalam berbicara menggunakan bhs. Inggris ?
  3. Bagaimana penggunaan grammar siswa dalam berbicara bhs. Inggris ?
  4. Bagaimana kelancaran siswa dalam berbicara bhs. Inggris ?
  5. Bagaimana kejelasan artikulasi siswa dalam berbicara bhs. Inggris ?
  6. Bagaimana keberanian siswa dalam berbicara menggunakan bhs. Inggris saat proses KBM ?
  7. Bagaimana antusias siswa jika dilihat sebelum dan sesudah adanya storytelling ?
  8. Menurut anda, sudah efektifkah penerapan storytelling dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa?

Siswa  :

  1. Bagaimana kertertarikan Saudara dalam mengikuti storytelling di kelas? Apakah menyenangkan?
  2. Menurut Saudara, lebih menyenangkan menggunakan storytelling atau model pengajaran sebelumnya?
  3. Seberani apakah Saudara berbicara menggunakan bhs.Inggris pada saat proses KBM ?
  4. Bagaiamana kelancaran Saudara dalam berbicara bhs. Inggris setelah mengikuti storytelling ?
  5. Bagaimana antusias Saudara dalam mengikuti storytelling di kelas?
  6. Bagaimana pemahaman Saudara ketika mengikuti storytelling di kelas ?
  7. Bagaimana nilai tes atau ujian Saudara setelah mengikuti storytelling ?
  8. Menurut Saudara, sudah efektifkah penerapan storytelling dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa?

Demikianlah contoh proposal ptk, semoga dapat membantu dalam penyusunan proposal penelitian tindakan kelas yang anda lakukan.

Leave a Comment