Contoh Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Tingkat PAUD

Banyak sekali pembaca yang menanyakan contoh Penelitian Tindakan Kelas untuk sekolah PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini. Namun sedikit sekali contoh Penelitian Tindakan Kelas Paud yang bisa anda temukan di google pencarian. Disini kami akan memberikan contoh PTK Paud yang mungkin bisa anda jadikan referensi.

Judul : PENINGKATAN KETERAMPILAN BICARA ANAK USIA 3-4 TAHUN MELALUI METODE BERCERITA (WAYANG BEBER TEMATIK) DI KELOMPOK BERMAIN AL-JAUHRIYYAH MUSLIMAT NU KAJEN MARGOYOSO PATI

Penulis : FATIMATUS SYA’DIYAH

Asal     : UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Tahun : 2015

Abstrak

Keterampilan bicara merupakan kecakapan atau kemampuan sesorang dalam menyampaikan suatu ide, gagasan, pikiran dan perasaan kepada orang lain menggunakan bahasa lisan secara jelas, benar, dan bisa dipahami oleh orang lain. Keterampilan bicara ini bisa kita asah melalui berbagai metode, salah satunya adalah metode bercerita. Bercerita sendiri merupakan suatu keterampilan yang sangat imajinatif dan komunikatif. Maka dari itu, bercerita sangat penting digunakan dalam mengasah keterampilan bicara.

Berdasarkan hasil observasi yang pernah dilakukan, keterampilan bicara anak B1 KB Al Jauriyyah Muslimat NU Kajen rendah. Hal ini dikarenakan pengembangan  kegiatan yang mengasah keterampilan bicara seringkali diabaikan, tidak adanya kesempatan untuk mengekspresikan dan mengungkapkan gagasan yang dimiliki oleh anak. Disamping itu guru juga kurang melakukan inovasi dengan metode dan media yang lebih menarik. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini, yakni bagaimana peningkatan keterampilan bicara anak melalui bercerita wayang beber tematik di KB Al-Jauriyyah Muslimat NU Kajen Margoyoso Pati? Berhubungan dengan masalah tersebut,  penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui langkah-langkah implementasi peningkatan keterampilan bicara anak melalui bercerita wayang beber tematik di KB Al-Jauhariyyah Muslimat NU Kajen Margoyoso Pati.

Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini akan dilakukan dalam dua tahap, yakni siklus I dan siklus II. Subyek penelitian ini adalah siswa B1 usia 3 sampai 4 tahun KB Al Jauhariyyah Muslimat NU Kajen Margoyoso Pati sebanyak 14 siswa. Hasil analisis data terjadi peningkatan ketuntasan belajar sebanyak 62% pada siklus I dan sebesar 85% pada siklus II. Hal ini berarti metode bercerita wayang beber tematik bisa kita terapkan untuk meningkatkan keterampilan bicara anak di KB Al Jauhariyyah Muslimat NU Kajen Margoyoso Pati. Dengan peningkatan ini, menunjukkan bahwa metode bercerita wayang beber tematik ini bisa berhasil baik atau memenuhi batas ketuntasan yang telah ditentukan yakni sebesar 80%.

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Anak adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Mereka akan memberikan warna dalam kehidupan kita, pelita di dalam kegelapan, guru dan simfoni keindahan penyejuk qalbu. Anak adalah generasi penerus bangsa yang nantinya akan menentukan maju mundurnya suatu negara. Sebagai generasi penerus bangsa, anak merupakan harta paling berharga yang harus kita jaga, sayangi, dan diberi perhatian khusus, ini bertujuan agar tercipta seorang generasi yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang  demokratis serta yang bertanggung jawab.

Anak adalah harta yang paling berharga sekaligus cobaan bagi orangtuanya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al Anfal ayat (2005: 180) “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhya disisi Allah ada pahala yang besar”. Berhubungan dengan ayat tersebut anak menjadi tempat untuk belajar dalam melatih kesabaran, pengetahuan, dan iman sesorang. Seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang, perhatian, dan kebaikan maka akan tumbuh menjadi pribadi yang matang, baik, cakap, dan mandiri. Orangtua sendiri sangat bertanggungjawab atas kesuksesan belajar anak, potensi yang dimiliki seorang anak dapat berkembang dengan baik dan bermanfaat bagi lingkungannya saat orangtua dan lingkungannya memberikan stimus yang baik. Stimulus yang didapatkan anak memiliki pengaruh besar pada kehidupannya. Hal ini dikarenakan perkembangan yang dialami anak pada usia dini merupakan proses perubahan individu dari masih belum matang menjadi matang, sederhana menjadi komplek, dan suatu proses evolusi manusia dari ketergantungan menjadi manusia makhluk dewasa mandiri, dan anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik.

Anak pada usia sekitar 0 sampai 6 tahun sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Pada tahun-tahun ini anak mempunyai apa yang disebut dengan periode-periode sensitif (sensitive periode), dalam masa ini anak secara khusus akan mudah menerima stimulasi. Perkembangan utama yang terjadi dalam masa ini berkisar pada penguasaan dan pengendalian lingkungan atau yang biasa disebut dengan masa penjelajahan. Anak pun ingin mengetahui keadaan lingkungan sekitarnya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannnya, dan bagaimana ia bisa menjadi bagian dari lingkungan. Disamping itu, usia dini juga merupakan masa anak menjadi cukup peka dan menjadi peniru ulung atau imitator dalam lingkungannya. Proses peniruan atau imitasi yang didapatkan selama masa kanak-kanak ini, dapat menentukan derajat kualitas pribadi, kesehatan, intelgensi, kematangan sosial, bahasa dan produktivitas anak pada tahap yang selanjutnya. Proses ini selain dilakukan anak terhadap perilaku, tetapi juga pada bagaimana orang-orang di sekitarnya melakukan interaksi sosial dan komunikasi. Interaksi dan komunikasi yang baik dibutuhkan anak supaya bisa menjadi bagian dari lingkungan dan kelompok sosial.

Pada usia sekitar 2 sampai 6 tahun ada beberapa aspek perkembangan yang harus dicapai oleh anak, yakni aspek perkembangan nilai-nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa dan sosial emosional. Menurut Agnia (2012: 35) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa anak usia 3 sampai 5 tahun mempunyai beberapa karakteristik diantaranya, berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif dalam melakukan kegiatan, perkembangan bahasa juga menjadi semakin baik, anak sudah mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu untuk mengungkapkan pikirannya, perkembangan kognitif ditunjukkan anak dengan rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya, sementara dalam perkembangan sosial emosional anak masih bermain secara individu, meskipun berdampingan. Program pendidikan untuk anak usia 3 sampai 4 tahun semestinya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak, baik itu secara fisik, kognitif, bahasa, ataupun perkembangan lainnya.

Perkembangan bahasa menjadi aspek perkembangan yang dikembangkan dalam pendidikan anak usia dini sangat penting dan harus diperhatikan sejak dini. Hal ini dikarenakan bahasa seseorang sangat mencerminkan pikirannya, apabila semakin terampil seseorang dalam berbahasa maka akan semakin cerah dan jelas juga jalan pikirannya. Wijayanti (2010: 27) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa bahasa adalah alat penting bagi setiap manusia, melalui bahasa sesorang atau anak dapat mengembangkan kemampuan bergaul dengan orang lain. Keterampilan seseorang dalam berbahasa yang efektif dan baik meliputi empat segi yakni keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan menulis. Setiap keterampilan tersebut sangat berhubungan dengan tiga keterampilan lain dengan cara yang berbeda. Keempat keterampilan tersebut pada intinya adalah satu kesatuan. Bicara sebagai satu keterampilan dalam bahasa harus diperkenalkan dan dilatih kepada anak setiap hari dalam pergaulannya dengan baik dan maksimal, karena anak pada usia 3 sampai 4 tahun melakukan aktivitas berbahasanya baru dalam tahapan menyimak atau mendengar dan berbicara. Ketika berbicara anak akan belajar untuk mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata, ekspresi, dan ritme, untuk menyatakan dan menyampaikan suatu pikiran, gagasan dan juga perasaanya. Anak pun akan memperoleh banyak perbendaharaan kosa kata.

Pemberian stimulasi melalui metode dan media yang menarik, tepat dan inovatif sangat penting untuk diberikan dalam kegiatan bermain yang bermakna, terutama untuk mengembangkan keterampilan bicara anak.

Diperlukan sebuah metode dan media yang bisa melatih keterampilan bicara anak, dengan cara mengucapkan kata-kata dan memahami kata yang sudah diucapkan, mengungkapkan gagasan dan pengalaman yang diperoleh dengan kalimat sederhana. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan berbicara anak adalah metode bercerita. Ulfa (2013: 3) menyatakan pembelajaran bercerita bukanlah sesuatu yang menakutkan. Siswa hendaknya sering dilatih bercerita, agar dapat terampil berbicara dengan baik tanpa merasa takut, malu, dan grogi. Bercerita merupakan satu metode yang bertujuan agar anak didik mampu mengemukakan gagasan secara lisan dengan jelas, urut, dan lengkap sesuai dengan isi yang dikemukakan.

Hal tersebut di dukung oleh penelitian Belet (2010) dengan judul “The Use of Storytelling to Develop The Primary School Students Critical Reading Skill: The Primary Education pre-Service Teachers Opinions”. Bellet menerapkan konsep bercerita sebelum pelaksanaan pembelajaran oleh guru di sekolah dasar Turki untuk meningkatkan keterampilan membaca kritis. Berdasarkan analisis data hasil penelitian, sebagian besar guru menyatakan bahwa bercerita akan mengembangkan keterampilan siswa untuk berpikir kritis, meningkatkan kemampuan menganalisis dan menghubungkan suatu peristiwa dalam bercerita dengan kehidupan nyata.

Metode-metode pembelajaran yang sesuai untuk diberikan kepada anak usia dini, akan menentukan kepribadian anak setelah dewasa. Artinya, bila rangsangan keterampilan bicara diberikan dengan tepat di usia dini, kita bisa berharap bahwa kelak akan terbentuk manusia dewasa yang juga kreatif. Selain metode juga diperlukan sebuah media yang menarik untuk mengembangkan keterampilan bicara anak. Media tersebut bisa berupa buku, boneka, CD, kaset, OHP, LCD dan wayang. Wayang sebagai media bercerita bukan lagi hal yang asing bagi keseharian anak. Wayang merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan karena saat ini sudah jarang sekali muncul, sehingga banyak anak yang tidak mengetahui tentang warisan budayanya. Hal ini sejalan dengan ungkapan Banung (2014: 40) dalam jurnalnya “Identification of The Character Figures Visual Style in Wayang Beber of Pacitan Painting” menyatakan bahwa keberadaan wayang di Indonesia sudah mulai berkurang, padahal gaya visual artistik wayang beber adalah salah satu dari puncak artisik tradisional jawa yang mempunyai pengaruh kuat terhadap kehidupan masyarakat jawa, wayang beber bagian dari pengetahuan artistik tradisional yang harus dipelihara dan dikembangkan.

Dessea (2011) dalam penelitiannya “Storytelling Upgrades Using Media Images in Children Group B IN TK PKK Pendulum Malang menyatakan bahwa menggunakan media gambar sebagai alat dalam pembelajaran akan menjadikan siswa antusias untuk bercerita dan dapat melatih siswa berbicara dengan lancar dan benar. Begitu pula dengan wayang. Aktivitas memainkan wayang, mendorong anak untuk mengungkapkan imajinasi, gagasan dan bahasanya yang dituangkan dalam bentuk bahasa lisan, sehingga akan sangat efektif untuk menggugah kemampuan bicara anak. Aktivitas bercerita dengan wayang beber, pada dasarnya mengintegrasikan aktivitas yang sebelumnya secara terpisah merupakan aktivitas yang akrab dengan keseharian anak, seperti mendengarkan, berbicara, menggambar, bercerita, dan bermain peran.

Hal ini didukung oleh Agnia (2012: 3) dalam penelitiannya mengatakan bahwa metode bercerita dengan menggunakan alat peraga berpengaruh terhadap perkembangan berbicara anak. Hal ini dinyatakan setelah mendapatkan hasil analisis observasi dalam jurnal penelitiannya. Observasi awal (pretest ) menunjukkan bahwa kemampuan berbicara secara keseluruhan di TK Tulus Sejati masih terlihat sangat kurang. Berbeda dengan analisis setelah pemberian treatment dengan menggunakan alat peraga wayang karton yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Penelitian Agnia menunjukkan bahwa metode bercerita dengan menggunakan alat peraga wayang berpengaruh terhadap perkembangan bahasa anak.

Pada masa sekarang ini, kemampuan berbicara menjadi makin krusial. Pengembangannya harus menjadi pilihan utama bila tak ingin tertinggal di tengah persaingan global yang sangat ketat. Kenyataan yang terjadi pengembangan kegiatan yang menggali kemampuan berbicara sering ditinggalkan. Kebanyakan pendidik dan orangtua hanya fokus pada keterampilan membaca dan menulis. Padahal sebelum keterampilan membaca dan menulis bisa dilakukan anak, setidaknya anak sudah mampu berfikir dari hal yang abstrak menuju yang konkrit. Anak sudah mengenal simbol dan bentuk dengan baik dengan cara mendengar, melihat dan merasakan kemudian mengkomunikasikan apa yang diperolehnya dengan tepat, baru anak dapat mengikuti keterampilan menulis dan membaca.

Berdasarkan dari observasi di lapangan, khususnya di KB Al-Jauhariyyah Muslimat NU Pati menunjukkan bahwa rangsangan bagi perkembangan keterampilan bicara anak kurang memadai dan kurang mempertajam dalam menggali potensi bicara anak. Kegiatan belajar mengajar yang ada belum secara maksimal mampu mengembangkan keterampilan bicara, dan perbendaharaan kosakata anak. Menurut catatan perkembangan anak di kelas B1 yang berjumlah 14 siswa (6 laki-laki dan 8 perempuan) ini 70% sebanyak 9 anak belum mampu berbicara dengan jelas dan runtut, dan 30% dengan jumlah 5 anak mampu berbicara dengan jelas dan runtut. Anak-anak belum menemukan cara yang tepat untuk mengeluarkan bunyi suara dan rangkaian kata menjadi kalimat sebagai sarana untuk menyatakan ide, fikiran, dan kebutuhannya, ada yang ragu, malu untuk mengungkapkan diri baik lewat lisan maupun tulisan/gambar, masih suka meniru atau mengikuti apa yang dilakukan oleh guru, masih kesulitan bahkan sekedar mengikuti apa yang dicontohkan oleh guru.

Permasalahan lebih spesifik lagi yang terdapat dalam perkembangan bicara anak KB Al Jauhariyyah adalah pengucapan. 21% sebanyak 3 anak masih sering menghilangkan satu suku kata seperti kata “makan” untuk kata “makanan”, dan 28% yaitu 4 anak masih sering mengganti huruf dalam kata seperti kata “atu” untuk kata “aku”, kata “aya” untuk kata “saya”, dan kata “tutup” untuk kata “cukup”. Hal ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan keluarga, orangtua dari anak-anak tersebut masih menggunakan kosakata yang sama seperti yang diucapkan anak atau menirukan kembali tanpa membenarkan. Seperti ketika anak mengucapkan kata “atan” untuk kata “makan” dan “inum” untuk kata “minum” orangtua malah mengucapkan kembali kata tersebut dengan bunyi yang sama. Bagi mereka (orangtua) hal ini “manis” dan “lucu”, padahal seharusnya harus ada pembetulan secara terus menerus agar anak menemukan model yang baik untuk dicontoh sehingga anak dapat melafalkan kata dengan tepat untuk dapat dikombinasikan dengan kata lain menjadi kalimat dan dapat difahami oleh orang lain.

Leave a Comment