Contoh Latar Belakang Pendidikan

Latar Belakang Tentang Pendidikan – Latar belakang adalah dasar atau yang bisa disebut dengan alasan yang menjadi titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca atau pendengar mengenai apa yang ingin kita sampaikan. Pada umumnya latar belakang akan dibuat saat membuat artikel ilmiah atau karya tulis ilmiah seperti makalah, skripsi, PTK dan lainnya.

Dalam menulis latar belakang kita harus menuliskannya secara jelas. Mulai dari masalah yang telah ditemui, data-data yang dapat menunjukkan masalah tersebut, landasarn yuridisnya, landasan teoritis yang relevan, sehingg akan menemui solusi dari masalah yang sedang dihadapi.

Dalam menulis latar belakang pendidikan, susunannya tidak jauh berbeda dengan penyusunan latar belakang lainnya, ada 4 hal yang menjadi inti dari penulisan latar belakang yang baik, yakni :

  1. Menemukan Masalah
  2. Data pendukung sebagai sebuah bukti ditemukannya masalah
  3. Terdapat solusi dari masalah yang didukung oleh (teori-teori yang relevan)
  4. Adanya pengajuan hipotesis (jawaban sementara)

Baca juga : Cara Membuat Latar Belakang

Apabila anda sudah memahami tentang langkah-langkahnya. Berikut ini kami akan memberikan contoh latar belakang pendidikan.

Contoh 1 :

Pengaruh Metode Pembelajaran Ekspositori Terhadap Motivasi Belajar  Siswa

Latar Belakang

Dalam sebuah lembaga pendidikan keberhasilan kegiatan belajar mengajar-mengajar dapat dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar tersebut adalah prestasi belajar siswa yang bisa diukur dari nilai siswa setelah menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru ketika evaluasi dilaksanakan. Keberhasilan pembelajaran dalam suatu sekolah akan terwujud dari keberhasilan para siswanya. Keberhasilan siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dari dalam ataupun dari luar individu. Untuk faktor dari dalam individu sendiri meliputi faktor fisik dan psikis, yaitu motivasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar akan memberikan dukungan yang positif dalam belajar, tetapi juga bisa menghambat kegiatan belajar. Hambatan-hambatan yang terjadi berakibat pada belajar individu yang mengalami proses belajar mengajar yang tidak sesuai dengan keinginannya. Keadaan seperti ini akan berdampak pada timbulnya suatu masalah pada proses belajar berikutnya. Motivasi belajar siswa yang tentunya akan menjadi hambatan pada proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan dapat mengakibatkan prestasi belajar siswa menjadri rendah. Oleh sebab itu guru diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa untuk dapat meningkatkan prestasi belajar mereka.

Permasalahan belajar seperti diatas telah terjadi pada siswa di SMK Negri 7 Yogyakarta kelas X1 Penjualan. Hal ini dibuktikan dengan pencapaian nilai matematika mereka yang terbilang rendah. Banyak sekali siswa yang mendapat nilai matematika di bawah 60, ini tentunya tidak sesuai dengan harapan guru. Para siswa beranggapan bahwa belajar matematika sangat sulit sehingga banyak di antara mereka yang kurang berminat untuk mempelajari matematika dan kurang termotivasi dalam belajar. Disamping itu, pembelajaran juga masih terpusat pada guru. Guru terlalu banyak menjelaskan dan siswa kurang diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan temannya.

Berdasarkan observasi peneliti di sekolah yang dilaksanakan pada bulan Februari sampai Maret tahun 2008 dan wawancara dengan guru matematika, 28 dari 37 siswanya masih kurang memahamami pelajaran matematika. Hal ini dibuktikan dari nilai tes matematika yang masih kurang dari 60. Berdasarkan hasil pengamatan, telah membuktikan bahwa motivasi dan minat belaar matematika siswa masih rendah. Rendahnya motivasi dan minat belajar siswa ini dapat dilihat ketika siswa menerima materi pelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan sikap mereka yang sering ramai sendiri, mengobrol dengan teman, ada juga siswa yang mengerjakan PR mata pelajaran yan lainnya dan kurang memperhatikan pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Apabila siswa diberikan soal yang cukup susah, biasanya mereka tidak mengerjakan soal tersebut dan bahkan juga tidak termotivasi untuk mencari penyelesaian dari soal tersebut. Siswa lebih senang apabila guru sendiri yang menyelesaikan soal tersebut. Hal ini dikarenakan siswa kurang diberikan kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat.

Mengingat bahwa siswa merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan, maka perlu diupayakan adanya pembenahan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan optimalisasi prestasi belajar siswa. Sehubungan dengan keberhasilan belajar, Slamteo (1988 : 62) menjelaskan bahwa ada 2 faktor yang dapat mempengaruhi belajar siswa, yaitu :

  1. Faktor Internal, adalah faktor yang ada di dalam diri siswa yang meliputi faktor fisik seperti kesehatan dan faktor psikologis seperti misalnya motivasi, kemampuan awal, kesiapan, bakat, minat dan lain-lain.
  2. Faktor eksternal, adalah faktor yang ada di luar diri siswa seperti keluarga, masyarakat, sekolah, dan lainnya.

Selanjutany tentang keberhasilan belajar matematika Herman Hudoyo (1998: 6-7)  menjelaskan bahwa faktor-faktor yang akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar matematika adalah sebagai berikut :

  1. Peserta didik, meliputi kemampuan, kesiapan, minat, motivasi, dan kondisi siswa ketika mengikuti kegiatan belajar matematika.
  2. Pengajar, meliputi : pengalaman, kepribadian, penguasaan materi matematikan dan cara penyampaian yang diberikan oleh pendidik.
  3. Prasaran dan sarana, meliputi ruangan, alat bantu belajar, buku tulis dan sumber belajar lainnyya yang dapat membantu kelancaran kegiatan belajar mengajar.
  4. Penilaian, digunakan untuk dapat melihat hasil belajar matematika sehinga diharapkan mampu meningkatkan kegiatan belajar dan memperbaiki hasil belajar yang selanjutnya.

Dari pendapat diatas ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi upaya peningkatan prestasi belajar siswa yaitu meningkatkan motivasi dalam belajar matematika. Motivasi sebagai keseluruhan daya penggerak yang terdapat dalam diri siswa dapat menjamim kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang telah diingin siswa dapat dicapai. Motivasi sendiri bisa berasal dari diri siswa (intrinsik) ataupun dari luar siswa (ekstrinsik).

Penggunaan metode pembelajaran ekspositori dengan cara memberikan kuis tentunya akan meningkatkan motivasi belajar matematikan sehingga diharapkan mampu meningkatkan kegiatan belajar matematika dan membenahi hasil belajar yang selanjutnya. Dengan menggunakan metode ini maka pembelajaran tidak hanya akan terpusat pada guru saja, tetapi siswa juga bisa lebih aktif dalam pembelajaran.

Berdasarkan pada pengalaman diatas akan dilakukan penelitian pembelajaran matematika menggunakan metode ekspositori dengan cara memberikan kuis untuk memotivasi belajar matematika siswa. Metode pembelajaran ekspositori dengan memberikan kuis matematika ini diharapkan bisa menjadi sebuah motivasi untuk mengatasi masalah rendahnya motivasi belajar yang dialami oleh siswa.

Contoh 2 :

Peranan Guru Sebagai Motivator dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran PAI (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung)

Pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan suatu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur. Hal tersebut sesuai dengan rumusan rujuan pendidikan nasional yang telah tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 3 yang menjelaskan bahwa :

Untuk dapat mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan yang sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, maka dibutuhkan peningkatan dan penyempurnaan mutu pendidikan yang dalam hal ini sangat berkaitan dengan peningkatan kualitas  proses belajar mengajar.

Contoh 3 : 

Penerapan Media Papan Lempar Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negri Jomblang 01 Kota Semarang Tahun 2015/2016

Dewasa ini bangsa Indonesia sedang berupaya meningkatkan sumber daya manusia. Hal tersebut dilakukan dengan meningkatkan kecerdasakan sumber daya manusia. Hal tersebut juga tidak lepas usaha untuk dapat bersaing di era globalisasi. Upaya mencerdaskan manusia Indonesia dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan.  Upaya mencerdaskan manusia Indonesia, juga telah jelas dituangkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, pasal 3 yang menyebutkan bahwa.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Sisdiknas No 20 tahun 2003).

Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta menceradaskan kehidupan bangsa adalah pendidikan nasional. Oleh sebab itu pendidikan nasional harus mempunyai kualitas yang baik, sehingga mampu untuk mencapai fungsi dan tujuan dari pendidikan di Indonesia. Sementara Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 juga menyebutkan bahwa:

Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokkratis dan bertanggung jawab.

Undang-Undang tersebut juga dengan jelas menyampaikan bahwa yang menjadi tujuan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik. Peserta didik disini adalah siswa yang ada di sekolah dan potensi yang dimaksut adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa.

Mengingat pada fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional tersebut maka jelas bahwa diharapkan melalui pendidikan nasional sumber daya manusia indonesia menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Artinya kita akan melihat manusia indonesia yang berintelektual, manusia Indonesia yang berkarakter dan dapat berprestasi untuk bersaing di dunia.

Namun dewasa ini pendidikan di Indoenesia berada pada tingkat yang rendah. Dikutip DetikNews.com (2014) disebutkan bahwa hasil survei dari PISA (Program for International Student Assesment) tahun 2012 memperlihatkan bahwa negara Indonesia berada diperingkat rendah. Negara yang paling rendah dalam peringkat ini adalah Peru dan Indonesia. Lebih lanjut dikutip dari MetrotvNews.com (2013) disampaikan bahwa tingkat membaca pelajar Indonesia menempati urutan ke-61 dari 65 negara anggota PISA. Indonesia hanya mengumpulkan skor membaca 396 poin. Untuk literasi matematika, pelajar Indonesia berada di peringkat 64 dengan skor 375. Adapun skor literasi sains berada di peringkat 64 dengan skor 382. Sedangkan dikutip dari Kompas.com (2012) disebutkan bahwa hasil research dari Firma Pendidikan Pearson sistem pendidikan Indoensia berada di posisi terbaFwah bersama Meksiko dan Brazil. Dari hasil tersebut menunjukan bahwa tingkat pendidikan di Indonesia masihlah rendah dan jauh dibandingkan dengan negara-negara lain.

Kondisi tersebut jelas menunjukan bahawa terjadinya ketimpangan yaitu anatar harapan dengan kenyataan. Harapan dari adanya pendidikan nasional yaitu mampu mengembangkan kualitas sumber daya manusia, sehingga dapat bersaing di era global dengan negara-negara lain. Namun kondisi yang terjadi adalah sebaliknya, pendidikan nasional belum mampu secara maksimal mengembangkan manusia indonesia yang mampu bersaing di era global. Ketimpangan tersebut menjadikan adanya masalah yaitu kualitas pendidikan nasilan yang masih kurang.

Kualitas pendidikan salah satunya ditentukan oleh suasana kondusif dalam proses belajar. Suasana kondusif sangat mempengaruhi kondisi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Menurut Rianto (2007:1), tingkat keberhasilan pembelajaran amat ditentukan oleh kondisi yang terbangun selama pembelajaran. Kondisi pembelajaran yang semakin kondusif, maka tingkat keberhasilan peserta didik dalam belajarnya akan semakin tinggi dan sebaliknya. Lebih lanjut kondusifitas proses belajar di kelas juga dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengajar. Kemapuan guru dalam memfasilitasi perserta didik dalam belajar meliputi kemampuan guru dalam menyajikan pembelajaran, menggali kemampuan siswa dan mengembangkan potensi dari siswa.

Baca juga : Contoh Latar Belakang Skripsi

Oleh sebab itu untuk menginkatkan kualitas dari pendidikan nasional dapat dilakukan oleh guru dengan meningkatkan kemampuannya dalam memfasilitasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Menurut Rusman (2015: 21) “pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya”.

Komponen-komponen yang saling berhubungan dalam pembelajaran yaitu tujuan, materi, media dan strategi pembelajaran. Maka dengan kemampuan guru mengorganisir pembelajaran dengan baik, dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Leave a Comment