Contoh Latar Belakang Skripsi

Posted on

Contoh Latar Belakang Skripsi Ekonomi Akuntansi

Judul : AKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRUKTUR MODAL (STUDI KASUS PERUSAHAAN REAL ESTATE DAN PROPERTY YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PADA TAHUN 2009-2012)
Penulis : Bayu Setyanto Ribowo (UNNES)



Peningkatan aktivitas pada sektor industri real estate dan property dapat dijadikan petunjuk mulai membaiknya atau bangkitnya kembali kegiatanekonomi. Dengan kata lain, kegiatan di sektor industri real estate dan propertydapat dijadikan indikator seberapa aktifnya kegiatan ekonomi secara umum yangsedang berlangsung. Namun demikian, perkembangan industri sektor real estate dan property perlu dicermati secara hati-hati karena dapat memberikan dampak pada dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, industri sektor real estate dan property dapat menjadi pendorong bagi kegiatan ekonomi karena meningkatnya kegiatan di bidang sektor real estate dan property bisa mendorong naiknya berbagai kegiatan di bidang sektor lain yang terkait. Namun di sisi lain, perkembangan industri sektor real estate dan property yang berlebihan dapat pula menimbulkan dampak negatif pada perekonomian.

Dampak positif yang muncul disebabkan oleh industri sektor real estate dan property bisa memiliki efek berlipatganda (multiplier effect), yaitu dapat mendorong serangkaian aktivitas sektor ekonomi lain. Seluruh kegiatan ekonomi baik dalam bidang barang ataupun jasa pada dasarnya membutuhkan produk properti sebagai salah satu faktor produksi. Sebagai contoh, perusahaan manufaktur yang memerlukan adanya produk properti sebagai tempat atau sarana melakukan kegiatan produksi. Demikian pula kegiatan jasa keuangan, perdagangan, perkebunan, maupun pertanian akan selalu membutuhkan produk properti sebagai sarana kegiatannya. Secara umum dapat dinyatakan bahwa

kebutuhan akan produk properti akan terus meningkat sejalan dengan kegiatan ekonomi.

Sektor industri real estate dan property merupakan sektor dengan karakteristik yang sulit untuk diprediksi dan beresiko tinggi. Sulit diprediksi disini berarti, pasang surut sektor industri real estate dan property memiliki kesenjangan yang besar, yaitu pada saat terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, industri real estate dan property mengalami kenaikan dan cenderung melebihi target yang diperkirakan. Namun sebaliknya pada saat pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan, maka secara cepat sektor real estate dan property akan mengalami penurunan yang cukup spesifik.

Industri sektor real estate dan property dapat dikatakan mengandung risiko yang tinggi, hal ini disebabkan dari pembiayaan atau sumber dana sektor real estate dan property pada umunya berasal dari kredit perbankan, sedangkan sektor real estate dan property beroperasi dengan menggunakan aktiva tetap berupa tanah dan bangunan. Meskipun tanah dan bangunan dapat digunakan untuk melunasi utang, akan tetapi untuk dapat dikonversikan kedalam bentuk kas memerlukan waktu yang tidak singkat, sehingga para pengembang (developer) tidak dapat melunasi utangnya pada waktu yang sudah ditentukan.

Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat yang bermula berasal dari krisis kredit perumahan (subprime mortgage crisis) telah menimbulkan dampak yang signifikan secara global. Hal ini dapat dilihat dari kemerosotan yang tajampada bursa saham dunia sejak awal tahun 2008. Merosotnya bursa saham dunia mengakibatkan pasar modal dalam negeri mengalami pelemahan bahkan investor domestik juga turut terkena dampak, harga saham perusahaan-perusahaan go public di Indonesia menurun. Krisis global juga berdampak terhadap perekonomian Indonesia, tidak hanya pada melemahnya nilai tukar rupiah, tetapi juga pada sektor-sektor lainnya seperti sektor perbankan dan sektor real estate dan property. 



Sektor real estate dan property merupakan salah satu sektor yang secara signifikan berpengaruh oleh krisis global ini. Dimana perbankan memberhentikan sementara pemberian kredit untuk sektor real estate dan property sehingga pengembang (developer) mengalami kesulitan dalam sumber pendanaan. Tingginya suku bunga bank juga mengakibatkan penjualan di sektor ini menurun, karena semakin tinggi suku bunga kredit yang harus dibebankan terhadap para konsumen. Fenomena ini secara tidak langsung akan berdampak pada kebijakan pendanaan yang akan diambil perusahaan.

Masalah kebijakan pendanaan menjadi tombak dalam dunia bisnis dan perekonomian. Bahkan untuk keluar dari krisis ekonomi ini, sektor riil harus selalu digerakan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Banyak hambatan yang dialami oleh dunia usaha, dan salah satunya adalah masalah pendanaan. Salah satu keputusan penting yang dihadapi manajer, terutama manajer keuangan dalam kaitannya dengan kelangsungan operasi perusahaan adalah keputusan pendanaan atau keputusan struktur modal.

Apabila perusahaan dalam pemenuhan kebutuhan modalnya semakin meningkat sedang dana yang dimiliki terbatas, maka perusahaan tidak ada pilihan lain selain menggunakan dana yang berasal dari luar yaitu baik dalam bentuk hutang maupun dengan mengeluarkan saham baru untuk memenuhi kebutuhan modalnya. Dengan kata lain, perusahaan melakukan pendanaan dengan hutang (debt financing).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *