Lembar Kerja Siswa

Posted on

Contoh Lembar Kerja Siswa – Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau penyelesaian masalah. Lembar kerja siswa bisa dalam bentuk panduan untuk latihan pengembangan aspek kognitif ataupun panduan untuk pengembangan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan eksperimen atau demonstrasi.



LKS berisi sekumpulan kegiatan mendasar yang wajib dilaksanakan oleh siswa untuk memaksimalkan pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian hasil belajar yang harus ditempuh (Trianto, 2010: 111).

Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan lembaran-lembaran yang berisi tugas yang wajib dikerjakan oleh siswa. LKS pada umumnya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan tugas. Sebuah tugas yang diperintahkan dalam lembar jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya.

LKS bisa digunakan untuk mata pelajaran apa saja. Tugas-tugas sebuah lembar kegiatan tidak bisa dikerjakan oleh siswa secara baik jika tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya (Madjid, 2007: 177).

Baca juga : Cara Membuat Indikator Belajar

Struktur Lembar Kerja Siswa (LKS)

Dalam kegiatan belajar mengajar, LKS biasa dimanfaatkan sebagai buku latihan siswa yang didalamnya berisi:

A. Ringkasan Materi

Dengan adanya ringkasan materi, siswa akan menjadi lebih mudah dalam memahami materi



B. Soal-soal latihan

Bentuk-bentuk soal latihan yang dimuat dalam lembar kerja siswa pada umunya berisi:

1) soal-soal subyektif (uraian)

Soal-soal subyektif disebut juga dengan soal uraian yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih dan menentukan jawaban. Kebebasan tersebut berakibat pada data jawaban bervariasi, sehingga tingkat kebenaran dan tingkat kesalahan juga akan menjadi bervariasi, hal inilah yang mengundang subyektivitas penilai ikut berperan menentukan (Thoha, 1994; 55).

Beberapa kelebihan soal bentuk subyektif ini antara lain, yaitu :

  • Siswa dapat mengorganisasikan jawaban dengan pikiran sendiri
  • Dapat menghindarkan sifat tertekan dalam menjawab soal
  • Melatih siswa untuk memilih fakta relevan dengan persoalan, dan mengorganisasikannya sehingga bisa diungkapkan menjadi satu hasil pemikiran terintegrasi secara utuh
  • Jawaban yang diberikan akan diungkapkan dalam kata-kata dan kalimat yang dibuat sendiri sehingga melatih untuk dapat menyusun kalimat dengan bahasa yang baik, benar, dan cepat
  • Soal bentuk uraian sangat tepat untuk mengukur kemampuan analitik, sintetik dan evaluative

Sedangkan kelemahan soal bentuk ini adalah sebagai berikut :



  • Memerlukan banyak waktu untuk memeriksa hasilnya
  • Pemberikan skor jawaban biasanya tidak ajeg (reliable) karena ada faktor-faktor lain yang sangat berpengaruh, seperti tulisan siswa, kelelahan penilaian, situasi, dan lainnya
  • Variasi jawaban sangat banyak dan tingkat kebenarannya menjadi bertingkat-tingkat, sehingga dalam menentukan kriteria benar-salah menjadi agak kabur

2) Soal-soal obyektif (Fixed response item)

Pada tipe ini, soal-soal yang diberikan kepada siswa akan dilengkapi dengan alterntif jawaban, sehingga siswa tinggal memilih satu diantara alternatif jawaban yang tersedia. Jawaban tersebut hanya ada satu yang paling benar, sedangkan yang lainnya salah (Thoha, 1994: 69).

Soal bentuk obyektif ini mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya :

Leave a Reply

Your email address will not be published.