Perkembangan Kurikulum Di Indonesia Saat Ini

Posted on

Kurikulum Di Indonesia – Dalam dunia pendidikan kita sudah sangat familiar dengan yang namanya kurikulum. Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh sebuah lembaga penyelenggara pendidikan. Kurikulum memuat rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.



Penyusunan perangkat mata pelajaran disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut dan kebutuhan lapangan kerja. Kurikulum dikatakan efektif jika kurikulum tersebut dapat menyiapkan lulusan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat.

Hal inilah yang membuat kurikulum mengalami pengembangan dan pembaruan hingga saat ini. Di Indonesia sendiri kurikulum telah beberapa kali mengalami perubahan. Untuk memberi wawasan tambahan bagi Anda, berikut ini akan kami bahas mengenai perkembangan kurikulum di Indonesia.

Rencana Pelajaran 1947

Sejak Indonesia merdeka, pemerintah memiliki kurikulum pertama yang dipakai dalam dunia pendidikan. Kurikulum pertama masih memakai bahasa Belanda yang disebut Leer Plan atau Rencana Pelajaran.

Rencana pelajaran 1947 mulai dilaksanakan pada 1950, tepatnya ketika Indonesia telah mempunyai Undang-Undang Nomor 4 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi Undang-Undang pertama tentang Sisdiknas. Perlu diketahui, Sisdiknas dikenal Dasar dan Tujuan Pendidikan dan Pelajaran.

Baca juga: Pembahasan Kurikulum 2013 Revisi 2018

Rencana Pelajaran 1947 memuat beberapa hal. Seperti daftar mata pelajaran, jam pelajaran dan garis-garis besar pengajaran. Materi pelajaran yang diberikan tidak menekankan pada aspek pendidikan pikiran, melainkan menekankan pada aspek pendidikan watak, yakni kesadaran bernegara dan bernegara. Juga dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kesenian dan pendidikan jasmani.



Rencana Pelajaran 1952

Pada masa ini istilah kurikulum masih belum lahir dan tetap mempertahankan istilah rencana pelajaran. Mengacu pada Dasar Pendidikan dan Pengajaran Nomor 4 Nomor 1950, Rencana Pelajaran mulai dilaksanakan secara bertahap.

Nama Sekolah Rakyat (SR) digunakan oleh pemerintah. Dalam Sekolah Rakyat ini mata pelajaran diberikan kepada peserta didik yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Di samping Sekolah Rakyat enam tahun, juga ada Kelas Masyarakat yang ditujukan untuk lulusan SR yang tidak melanjutkan ke SMP. Tujuannya supaya lulusan SR bisa langsung masuk ke dunia kerja.

Rencana Pelajaran 1964

Di tahun 1964 materi pelajaran yang diberikan difokuskan dalam upaya pengembangan cipta, rasa, karsa, karya dan moral yang kemudian dikenal dengan sistem pendidikan Panca-Wardhana. Kelompok mata pelajaran mencakup (1) moral, (2) kecerdasan, (3) emosional/ artistik, (4) keprigelan (keterampilan), dan (5) jasmaniah. Sedangkan kegiatan pembelajaran menekankan pada aspek pengetahuan dan kegiatan praktik.

Kurikulum 1968

Pada tahun 1968 lahirlah istilah kurikulum yang menggantikan Rencana Pelajaran. Selain perubahan Rencana Pelajaran 1964 menjadi Kurikulum 1968, juga ada penggantian Sistem Pancawardhana menjadi Pembinaan Pancasila, Pengetahuan Dasar dan Kecakapan Khusus.

Kurikulum 1968 melakukan fusi pelajaran menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Hal ini menjadi konsep tematik dan integratif pertama di Indonesia.



Kurikulum 1975

Pada Kurikulum 1975 pemerintah menekankan proses pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, dipengaruhi oleh konsep Management by Objective (MBO) yang terkenal pada saat itu. Proses pembelajaran dikembangkan dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).

Pada masa itu dikenal dengan istilah satuan pelajaran atau Satpel, yakni rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci kembali dalam bentuk Tujuan Instruksional Umum (TIU), Tujuan Instruksional Khusus (TIK), kegiatan belajar mengajar, materi pelajaran, alat pelajaran, evaluasi.

Baca juga: Perangkat Pembelajaran Kurikulum 2013

Kurikulum 1984

Kurikulum ini merupakan pengembangan dari Kurikulum 1975 dengan membawa process skill approach. Walaupun mengedepankan pendekatan proses, faktor tujuan tetap dinilai penting. Siswa ditempatkan sebagai subjek belajar.

Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model pembelajaran ini juga disebut dengan istilah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL).

Konsep CBSA yang baik secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak reduksi dan deviasi ketika diterapkan secara nasional. Hanya saja banyak sekolah yang kurang mampu menerapkan model pembelajaran ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *