Metode Pengumpulan Data Wawancara

Posted on

Teknik Pengumpulan Data Dengan Wawancara – Apabila kita melakukan suatu penelitian, ada dua hal yang akan mempengaruhi  hasil penelitian. Kedua hal tersebut adalah kualitas instrumen penelitian dan kualitas dari pengumpulan data. Kualitas instrumen adalah kualitas dari alat yang dipakai untuk mengumpulkan data.



Kualitas instrumen ini berkenaan berkenaan dengan validitas dan reabilitas. Sedangkan kualitas dari pengumpulan data berhubungan dengan ketepatan cara-cara yang dipakai dalam mengumpulkan data. Sebelum memulai untuk mengumpulkan data, sebaiknya coba untuk memahami proses dari penelitian itu sendiri. Nah untuk lebih jelasnya simak penjelasanya selengkapnya di bawah ini.

Teknik pengumpulan data bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan antara ketiganya. Namun  kali ini kami hanya akan menjelaskan mengenai teknik pengumpulan data wawancara.

  • Interview (Wawancara)

Interview (wawancara) menurut Nazir (1998) merupakan suatu proses mendapatkan keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab atau reponden dengan menggunakan alat yang bernama interview guide (paduan wawancara).

Meskipun wawancara merupakan suatu proses percakapan yang berbentuk tanya jawab sambil tatap muka, wawancara adalah suatu proses pengumpulan data untuk sebuah penelitian. Beberapa hal yang menjadi pembeda antara wawancara dengan percakapan sehari-hari adalah :

Baca juga : Contoh Populasi Dan Sampel

  • Pewawancara dan responden biasanya belum saling mengenal sebelumya.
  • Responden akan selalu menjawab pertanyaan.
  • Pewawancara selalu memberikan pertanyaan (bertanya).
  • Pewawancara tidak akan menjuruskan pertanyaan kepada suatu jawaban, namun harus selalu bersifat netral.
  • Pertanyaan yang akan ditanyakan mengikuti panduan yang sudah dibuat sebelumnya.
  • Pertanyaan panduan ini dinamakan dengan interview guide.

Wawancara digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data jika peneliti ingi melakukan studi pendahuluan untuk dapat menemukan permasalah-permasalah yang perlu diteliti. Disamping itu, wawancara juga akan digunakan jika peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondenya sedikit atau kecil.



Dalam melakukan sebuah wawancara, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :

  1. Bahwa subyek atau responden adalah yang paling tahu mengenai dirinya sendiri.
  2. Bahwa yang ditanya oleh subyek kepada peneliti adalah hal yang sebenar-sebenarnya.
  3. Bahwa interpretasi subyek mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama seperti yang dimaksud oleh peneliti.

Wawancara bisa dilakukan dengan berbagai cara. Wawancara dapat dibedakan menjadi dua, yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak tersutruktur.

  • Wawancara Terstruktur

Wawancara terstruktur biasanya digunakan dalam penelitian survey atau penelitian kuantitatif, meskipun dalam beberapa situasi, wawancara terstruktur ini juga termasuk dalam penelitian kualitatif. Wawancara ini bisa dibilang terkesan seperti interogasi karena sangat kaku, dan pertukaran informasi antara peneliti dengan subyek yang diteliti minim sekali.

Dalam melakukan wawancara terstruktur ini, peneliti memiliki tugas untuk mengajukan pertanyaan dan subyek penelitian hanya bertugas untuk menjawab pertanyaan saja. Hal ini bisa dilihat adanya garis yang tegas antara peneliti dengan subyek penelitian. Selama melakukan proses wawancara maka harus sesuai dengan pedoman wawancara (guideline interview) yang sudah disiapkan sebelumnya. Adapaun ciri-ciri dari wawancara terstruktur adalah sebagai berikut :

  1. Daftar pertanyaan dan kategori jawaban sudah disiapkan

Dalam wawancara terstruktur, daftar pertanyaan telah tercantum dalam form pertanyaan serta dengan kategori jawaban yang sudah disediakan. Umumnya dalam bentuk pedoman wawancara. Peneliti tinggal membacakan pertanyaan yang sudah tertulis, sedangkan subyek penelitian hanya tinggal menjawab sesuai dengan jawaban yang sudah disiapkan sebelumnya.

  1. Kecepatan wawancara terkendali

Karena jumlah pertanyaan dan jumlah pilihan jawaban sudah disediakan, dan kemungkinan jawaban yang akan didapatkan sudah bisa diprediksi, tentu saja waktu dan kecepatan wawancara bisa terkendalai dan sudah diperhitungkan sebelumnya oleh peneliti. Peneliti bisa melakukan simulasi dahulu sebelum akan melakukan wawancara, dan mencatat waktu yang diperlukan selama wawancara tersebut.



  1. Tidak ada fleksibilitas (pertanyaan atau jawaban)

Fleksibilitas terhadap pertanyaan atau  jawaban tidak ada sama sekali. Peneliti sudah tidak perlu lagi membuat pertanyaan lain selama wawancara karena semua pertanyaan yang dibuat telah disimulasikan terlebih dahulu dan biasanya sudah “fix” saat turun ke lapangan. Begitu pula dengan jawaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *