Teknik Pengumpulan Data Kuantitatif

Teknik Pengumpulan Data Kuantitatif – Kualitas  dari suatu penelitian akan tergantung dari dua hal, yaitu instrumen penelitian dan teknik pengumpulan data. Untuk memperoleh hasil penelitian yang bisa dipercaya atau kredibell. Maka instrumen penelitian harus Valid dan Reable, sedangkan peneliti juga diharuskan unttuk menggunakan teknik pengumpulan data yang tepat.

Instrumen harus melewati Validitas dan Reliabilitas – Untuk bisa membuat instrumen penelitian menjadi valid dan reable maka instrumen peneletaian juga harus melewati proses validitas dan reabilitas.

Peneliti Harus Menggunakan Teknik Penelitian Yang Tepat – Sedangkan untuk membuat teknik pengumpulan data menjadi tepat, maka peneliti harus benar-benar memahami, data yang akan didapatkan dan dengan teknik apa peneliti bisa mendapatkan data tersebut.

Maka dari itu, menjadi sangat penting bagi peneliti untuk mengetahui teknik pengumpulan data kuantitatif. Artikel ini akan mengulas tentang :

  • Definis Teknik Pengumpulan Data
  • Tujuan Pengumpulan Data
  • Jenis-Jenis Teknik Pengumpulan Data

Baca juga : Contoh Penelitian Kuantitatif Pendidikan

Definisi Teknik Pengumpulan Data

Dikutip dari Pastiguna, teknik pengumpulan data adalah metode atau cara yang bisa digunakan peneliti dalam pengumpulan data.

Sedangkan menurut Jhonshon & Cristensen (200 : 126) dikutip dari kumpulanmakah, meyebutkan bahwa metode pengumpulan data adalah teknik untuk mendapatkan data untuk dianalisis dalam suatu penelitian.

Jadi, dari kedua penjelasan diatas kita akan menemukan persamaan, dimana keduanya menekankan bahwa teknik pengumpulan data adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan data.

Mengumpulkan data sendiri bisa dibilang sulit, jika kita salah dalam memilih teknik mengumpulkan data maka akan salah pula data yang di ambil. Sehingga akan mengurangi nilai dari hasil penelitian itu sendiri.

Tujuan Pengumpulan Data

Penelitian Membutuhkan Data – Sebuah penelitian merupakan proses untuk mencari tahu, membuktika dan mengembangkan suatu pengetahuan. Untuk memperoleh kebenaran dari kegiata mencari tahu maka dalam suatu penelitian kita membutuhkan data-data.

Data diperoleh Dengan Mengumpulkan Data – Tujuan dari pengumpuln data adalah untuk menemukan data-data yang diperlukan dalam proses penelitian. Data tersebut menjadi sumber yang kemudian dianalisi dan disimpulkan menjadi pengetahuan baru.

Teknik Pengumpulan Data Kuantitatif

3 Teknik Pengumpulan Data – Apabila dilihat dari segi caranya, teknik pengumpulan data kuantitatif dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :

  1. Wawancara
  2. Angket
  3. Observasi

Berikut di bawah ini adalah penjelasan selengkapnya :

1. Wawancara

Wawancara biasa disebut dengan interview. Menurut Emzir (2010) dikutip dari Pastiguna menyebutkan bahwa wawancara adalah teknik penelitian dengan menggunakan komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi melalui tanya jawab atas peneliti dengan informan.

Teknik wawancara pada umumnya digunakan pada penelitian kualitatif. Sebab, dengan metode pengumpulan data ini peneliti akan mendapatkan informasi yang mendalam.

Meskipun demikian teknik penelitian wawancara juga bisa digunakan penelitian kuantitatif. Sugiyono (2009) menyebutkan bahwa penelitian ini bisa digunakan (pada penelitian kuantitatif) jika peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk dapat menemukan masalah yang perlu diteliti, dan jika peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit.

Dari kedua penjelasan diatas bisa disimpulkan bahwa teknik pengumpulan data wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara berkomunikasi secara langsung dengan informan. Teknik ini memiliki tujuan untuk menemukan permasalahan awal (studi pendahuluan) dan juga mengetahui hal-hal secara lebih mendalam.

Jenis Pengumpulan Data dengan Wawancara

Ada 2 jenis wawancara yang perlu anda ketahui, yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.

a. Wawancara Terstruktur

Teknik Pengumpulan Data dengan wawancara terstruktur dilakukan apabila, peneliti sudah mengetahui data apa yang akan didapatkan dalam penelitian.

Instrumen Berupa Pertanyaan yang Sudah Terdapat Alternatif Jawaban dari Peneliti – Dalam melakukan wawancara pengumpulan data menggunakan instrumen yang telah disiapkan. Instrumen tersebut kemudian akan disampaikan kepada informan. Setiap jawaban yang diberikan informan berdasarkan alternatif jawaban dari instrumen yang sudah dibuat.

Jadi secara sederhana dalam  teknik wawacara terstruktur pertanyaan dan alternatif jawaban yang akan diberikan kepada informan sudah ditetapkan terlebih dahulu.

Instrumen Pengumpulan Data dengan Wawancara Terstruktur
1) Bagaimanakah penilaian bapak ibu terhadap penyelenggaraan pendidikan di kabupaten ini?
a. sangat Bagus
b. Bagus
c. Tidak Bagus
d. Sangat Tidak Bagus
2) Bagaimana penilaian siswa terhadap bapak . . . . (nama) saat mengajar di kelas?
a. sangat Bagus
b. Bagus
c. Tidak Bagus
d. Sangat Tidak Bagus
3) Bagaimanakan kecepatan pelayanan pembuatan berkas-berkas di kelurahan?
a. Sangat Cepat
b. Cepat
c. Lambat
d. Sangat Lambat
dan contoh lainnya.

b. Wawancara Tidak Terstruktur

Pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak akan menggunakan pedoman wawancara yang tersusun dengan sistematis (Sugiyono : 1009).

Pedoman Garis Besarnya Saja – Pedoman yang digunakan dalam wawancara tidak terstruktur adalah garis besar dari permasalah yang akan ditanyakan.

2. Angket (Kuesioner)

Dikutip dari Rachamatul4212 menyebutkan bahwa angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan beberapa pertanyaan atau pertanyaan tertulis pada responden untuk di jawab.

Teknik pengumpulan data dengan angket sangat baik apabila peneliti ingin mengumpulkan data dengan jumlah responden yang cukup banyak atau banyak.

Pengumpulan data dengan menggunakan angket akan sangat efisien apabila peneliti sudah mengetahui yang akan diukur dan mengetahui apa yang diharapkan dari responden.

Dalam mengumpulkan data menggunakan teknik angket ini, ada beberapa prinsip penulisan angket yang harus diperhatikan, diantaranya :

Perinsip Penulisan Angket

1) Isi dan tujuan pertanyaan

Maksudnya adalah dalam penulisan angket, peneliti harus dapat memahami bentuk pertanyaanya dengan tujuan untuk melakukan pengukuran atau bukan. Apabila tujuannya adalah untuk melakukan pengukuran maka setiap jawaban harus ada skala penskorannya.

2) Bahasa yang digunakan

Bahasa yang akan digunakan dalam angket (kuesioner) harus sesuai dengan kemampuan bahasa responden. Apabila responden orang tua yang tidak memahami bahasa Indonesia maka jangan sampai menggunakan bahasa Indonesia baku yang cukup sulit untuk dipahami responden.

3) Tipe dan Bentuk Pertanyaan

Ada dua tipe atau bentuk pertanyaan dalam angket yaitu pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup.

Pertanyaan terbuka ialah pertanyaan yang mengharapkan responden menjawab pertanyaan berupa uraian.

Contoh : Bagaimankah tanggapan anda tentang filem-filem sinetron saat ini?

Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang memungkinkan responden menjawab secara singkat. Responden tinggal memilih alternatif jawaban yang telah disiapkan.

Contoh :

Apakah kamu senang dengan kepemimpinan Presiden saat ini?

  1. Iya
  2. TIdak

4) Pertanyaan Tidak Mendua

Pertanyaan yang akan diberikan kepada responden tidak mempunyai makna ganda, sehingga akan menimbulkan salah tafsir. Pertanyaan yang mendua tentunya akan menyulitkan responden untuk menjawab pertanyaan.

Contoh : Bagaimanakah pendapat anda tentang kualitas dan kecepatan pelayanan pembuatan e-KTP?

5) Tidak menanyakan yang sudah lupa

Pertanyaan-pertanyaan yang akan dibuat dalam angket sebaiknya bukan merupakan pertanyaan yang jawabannya kemungkinan telah dilupakan oleh responden. Disamping itu, sebaiknya pertanyaan jangan terlalu berat karena dapat memusingkan responden.

Contoh : Bagaimanakah kualitas pemerintahan Indonesia 30 tahun yang lalu?

6) Pertanyaan Tidak Menggiring

Pertanyaan-pertanyaan yang akan dibuat dalam angket, jangan sampai mengandung unsur untuk menggiring jawaban responden untuk menjawan pertanyaan pada salah satu pilihan.

Contoh :

Bagaimanakah jika bonus kerja pegawai ditingkatkan? (Maka sebagai pegawai memiliki pelungan lebih besar untuk menjawab setuju)

atau

Bagaimanakah kinerja anda selama 1 periode ini? (Kemungkinan besar dia akan menjawab baik)

Pertanyaan semacam itu harus dihindarkan.

7) Panjang Pertanyaan

Sebaiknya pertanyaan tidak perlu terlalu panjang, karena akan membuat konsentrasi dari responden menjadi bekurang. Jika ada jumlah pertanyaa yang cukup banyak karena terdapat variabel yang banyak maka diperlukan variasi dalam memberikan pertanyaan.

Dalam sekali angket sebaiknya mempunyai 20 sampai 30 pertanyaan.

8) Urutan Pertanyaan

Dalam membuat sebuah pertanyaan yang akan diberikan kepada responden. Pertanyaan dalam angket dimulai dari suatu yang umum ke spesifik atau khusus. Atu bisa juga mulai dari yang mudah menuju yang sulit. Hal ini harus dipertimbangkan matang-matang karena dapat mempengaruhi psikologis dari responden.

9) Prinsip Pengukuran

Angket yang akan diberikan kepada responden harus dapat untuk mengukur variabel-variabel dalam penelitian. Maka dari itu, instrumen tersebut harus valid dan reliabel. Sehingga setiap pertayaan harus dilakukan uji validitas dan realibilitas supaya dinyatakan valid dan reliabel. Angket pertanyaan yang tidak valid dan reliabel akan menghasilkan data yang tidak valid pada saat digunakan.

10) Penampilan Fisik Angket

Angket harus dibuat dalam kertas yang menari, mampu meningkatkan kebahagiaan, atau ketertarikan dari pengisian angket. Ketertarikan inilah yang akan membuat mereka mengisi dengan lebih serius. Hal ini tentunya akan berbanding terbalik apabila penampilan angket berada di kertas yang tidak menarik seperti misalnya pada kertas buram.

Nah, itulah ke 10 prinsip dari penulisan angket.

3. Observasi

Teknik pengumpulan data observasi pada umumnya digunakan apabila peneliti ingin mengetahui gejala tentang perilaku manusia, gejala alam dan apabila responden yang diamati tidak begitu besar. Dalam proses pengumpulan data dengan menggunakan observasi terdapat dua hal yang sangat penting yaitu pengamatan dan ingatan.

Instrumen dari teknik pengumpulan data dengan observasi yaitu peneliti itu sendiri. Sehingga peneliti harus memiliki kemampuan yang mumpuni.

Apabila dilihat dari proses pelaksanaan pengumpulan data, maka observasi bisa dibedakan menjadi dua macam yakni observasi participant dan observasi nonparticipant.

a. Observasi Participant

Observasi participant merupakan teknik pengumpulan data dengan observasi yang dimana peneliti terlibat secara langsung dalam kegiatan sehari-hari orang yang diamati atau sumber penelitian.

b. Observasi Nonparticipant

Berbanding terbalik, jika dalam observasi participant tadi peneliti ikut serta hidup dan tinggal dilingkungan sumber data. Maka pengumpulan data dengan observasi nonparticipant peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat yang independet.

Contoh: Dalam melaksanakan Pemilihan, peneliti ingin mengamati perilaku dari masyarakat yang memilih di TPS. Dalam hal ini peneliti tetap dapat mengamati sumber data tanpa harus terjunlangsung ikut memilih di TPS tersebut. Peneliti mencatat, menulis, dan kemudian membuat kesimpulan.

Sementara jika kita melihat dari perencanaannya, maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan observasi tidak terstruktur

Sama seperti wawancara yang mana ada wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.

Maka:

Observasi Terstruktur – Adalah teknik observasi yang sudah direncanakan secara sitematis

Observasi tidak terstruktur : Adalah teknik observasi yang tidak dipersiapkan secara sitematis tentang apa yang akan diobservasi.

Demikian artikel tentang teknik pengumpulan data. Semoga dapat membantu seluruh pembaca.

Leave a Comment