Penjelasan Teori Asam Basa Lewis

Asam Basa Lewis – Dalam pelajaran kimia pastinya kita mengenal apa itu asam dan basa. Keduanya merupakan golongan zat kimia yang sangat mudah ditemui di sekitar kita. Contoh asam yang ada di sekeliling kita adalah cuka, asam sitrun ataupun asam dalam lambung kita.

Sedangkan yang tergolong basa misalnya adalah kapur sirih atau soda api. Asam dan basa mempunyai sifat yang berbeda-beda. Awalnya asam dan basa dibedakan berdasarkan rasanya. untuk asam sendiri terasa masam dan basa terasa pahit serta licin seperti sabun.

Hanya saja secara umum zat-zat asam ataupun basa bersifat korosif dan beracun, terlebih jika berupa larutan dengan kadar tinggi. Sehingga akan sangat berbahaya jika menguji sifatnya dengan cara merasakannya.

Sejalan dengan berjalannya waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi, membedakan asam dan basa dapat dilakukan dengan memakai suatu indikator. Contohnya kertas lakmus, indikator universal ataupun pH meter.

asam basa

Larutan asam akan membuat kertas lakmus biru menjadi merah. Sementara larutan basa akan membuat kertas lakmus merah menjadi biru. Pada pengujian zat dengan pH meter, larutan asam akan menunjukkan pH lebih kecil dari 7. Begitu juga sebaliknya, untuk larutan basa akan menunjukkan pH lebih besar dari 7. Sedangkan larutan yang menunjukkan pH sama dengan 7 disebut netral.

Berbicara soal asam dan basa, muncul sebuah pertanyaan apa yang menentukan suatu senyawa bersifat asam atau basa. Definisi asam dan basa sendiri menjadi rumusan masalah bagi para ahli selama ratusan tahun.

Akan tetapi dari beragam teori definisi asam basa yang ada, terdapat tiga teori yang sangat bermakna dan terkenal. Antara lain teori asam basa Arrhenius, teori asam basa Brønsted–Lowry, dan teori asam basa Lewis. Mari kita bahas lebih jauh seputar teori asam basa Lewis.

Baca juga: Teori Mekanika Kuantum

Teori Asam Basa Lewis

Di tahun 1923 G.N. Lewis, seorang ahli kimia dari Negeri Paman Sam, Amerika Serikat memperkenalkan teori asam dan basa. Teori ini tidak melibatkan transfer proton, melainkan melibatkan penyerahan dan penerimaan pasangan elektron bebas.

Lewis menyampaikan teori baru mengenai asam basa sehingga partikel ion atau molekul yang tidak memiliki atom hidrogen atau proton bisa diklasifikasikan ke dalam asam dan basa. Lantas apa pendapat Lewis mengenai pengertian asam basa?

teori asam basa

Berdasarkan persamaan reaksi asam basa yang disampaikannya, Lewis mengatakan bahwa asam adalah suatu molekul atau ion yang bisa menerima pasangan elektron. Sementara basa adalah molekul atau ion yang bisa memberikan pasangan elektronnya.

Menurut Lewis senyawa asam adalah senyawa yang bisa menerima pasangan elektron atau akseptor pasangan elektron. Sementara senyawa basa merupakan suatu senyawa yang dapat memberikan pasangan elektron kepada senyawa lain atau donor pasangan elektron.

Ion H+ merupakan asam lewis, sebab ion H+ menerima pasangan elektron. Sementara -OH dan NH3 merupakan basa Lewis. Sebab keduanya merupakan penyumbang pasangan elektron.

Contoh Asam Basa Teori Lewis

Supaya lebih jelas berikutnya kita bahas contoh asam basa berdasarkan teori Lewis. Teori asam basa Lewis bisa digambarkan pada beberapa reaksi di bawah ini.

Boron Trifluorida dan Fluor

reaksi asam basa

BF3 bertindak sebagai asam, dapat menerima pasangan elektron dari F-. Sedangkan F- bertindak sebagai basa, dapat memberikan elektron kepada BF3.

Boron Trifluorida dengan Amonia

pengertian asam basa

NH3 menyerahkan pasangan elektron bebasnya kepada molekul BF3. Berdasarkan teori ini NH3 bertindak sebagai asam, lalu BF3 bertindak sebagai basa. Pada pembentukan senyawanya terjadi ikatan kovalen koordinasi.

Baca juga: Teori Kinetik Gas dan Termodinamika

Reaksi Na2O dan SO3

Pada reaksi ini melibatkan reaksi ion oksida O2- dari Na2O padat dan gas SO3.

Na2O(s) + SO3(g) = Na2SO4(s)

Atau O2– + SO3 –> [SO4]2–

Pada reaksi di atas SO3 menerima pasangan elektron dari ion O2-. Lalu di waktu yang bersamaan pasangan elektron ikatan dari S = O bergerak ke arah atom O. Sehingga O2- merupakan basa Lewis dan SO3 merupakan asam Lewis.

Ada hal menarik dari definisi asam menurut teori Lewis. Yakni adanya senyawa yang tidak mempunyai hidrogen bisa bertindak sebagai asam. Contohnya adalah molekul BF3.

Dengan menentukan struktur Lewis dari BF3, diketahui B kurang dari oktet dan bisa menerima pasangan elektron. Sehingga bisa bertindak sebagai asam Lewis.

Dalam kenyataan molekul yang tidak mencapai oktet sering merupakan asam Lewis yang kuat lantaran molekul tersebut bisa mencapai konfigurasi oktet dengan menerima pasangan elektron tak berikatan. Senyawa yang termasuk dalam perioda yang lebih bawah dari perioda dua arah pada sistem periodik unsur kimia bisa bertindak sebagai asam Lewis yang sangat baik, dengan memperbanyak susunan valensi terluarnya.

Kelebihan Teori Asam Basa Lewis

asam basa lewis

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki oleh teori asam basa Lewis. Berikut adalah beberapa keunggulan tersebut:

  1. Teori asam basa Lewis bisa menjelaskan sifat asam dan basa dalam pelarut lain ataupun tidak memiliki pelarut.
  2. Teori asam dan basa Lewis bisa menjelaskan sifat asam basa molekul atau ion yang memiliki pasangan elektron bebas, atau yang dapat menerima pasangan elektron bebas. Contohnya adalah pembentukan senyawa komplek.
  3. Teori ini dapat menjelaskan sifat basa untuk zat-zat organik. Misalnya DNA dan RNA yang mengandung atom nitrogen yang mempunyai pasangan elektron bebas.
  4. Dapat menjelaskan reaksi-reaksi asam basa lain dalam fase padat, gas dan medium pelarut selain air yang tidak melibatkan transfer proton. Misalnya reaksi-reaksi antara oksida asam (misalnya CO2 dan SO2) dengan oksida basa (misalnya MgO dan CaO), reaksi-reaksi pembentukan ion kompleks seperti [Fe(CN)6]3−, [Al(H2O)6]3+, dan [Cu(NH3)4]2+, dan sebagian reaksi dalam kimia organik.

Kekurangan Teori Asam Basa Lewis

Walaupun memiliki beberapa kelebihan, teori asam basa Lewis juga mempunyai kekurangan yang perlu diketahui. Teori asam dan basa Lewis ini cukup sulit untuk menggambarkan reaksi asam-basa, seperti reaksi antara ion Fe3+ dan ion CN–. Sebab keduanya tidak melibatkan ion H+ atau ion OH-. Di samping itu teori ini juga sulit untuk menentukan kekuatan asam atau basa dari reaksi yang terjadi.

ion

Selain teori asam basa Lewis, juga ada teori asam basa Arrhenius dan teori asam basa Brønsted–Lowry. Teori asam basa Arrhenius sendiri pertama kali disampaikan pada tahun 1884 oleh Svante August Arrhenius. Menurutnya asam adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air melepaskan ion H+. Sedangkan basa adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air melepaskan ion OH-.

Di tahun 1923, Johannes N. Brønsted dan Thomas M. Lowry secara terpisah mengajukan definisi asam dan basa yang lebih luas. Konsep yang diajukan tersebut berdasarkan pada fakta bahwa reaksi asam dan basa melibatkan transfer proton (ion H+) dari suatu zat ke zat lainnya.

Proses transfer proton itu selalu melibatkan asam sebagai pemberi atau donor proton dan basa sebagai penerima proton. Sehingga asam bisa diartikan sebagai donor proton, sedangkan basa merupakan akseptor proton.

Leave a Comment