Apa Itu Teori Behaviorisme

Teori Belajar Behaviorisme – Teori behavioristik merupakan sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner mengenai perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini kemudian berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang dapat berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang biasa disebut dengan aliran behavioristik.

Teori behavioristik dipelopori oleh Thorndike (1913), Pavlov (1927), dan juga Skiner (1974). Teori ini menganggap bahwa belajar merupakan tingkah laku yang bisa diamati yang disebabkan oleh adanya stimulus dari luar.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan jika teori ini beranggapan bahwa seseorang bisa dikatakan belajar ditunjukkan dari perilaku yang bisa di lihat, bukan dari apa yang terdapat dalam pikirannya.

Baca juga : Prinsip Prinsip Belajar

1. Pengertian Teori Behaviorisme

Teori Behavioristik menekankan bahwa hasil belajar terbentuk dari adanya stimulus dan respon – Hasil belajar sendiri bisa dilihat dari perilaku yang nampak. Teori behavioristik menempatkan bahwa belajar adalah suatu proses pembentukan keterkaitan antara stimulus dan respon (rangsangan dan tindak balas).

Teori behavioristik ini dengan model hubungan stimulus-responnya, menempatkan seseorang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu memakai metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan menjadi semakin kuatt jika diberikan penguatan dan akan menghilang jika dikenai hukuman.

Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar merupakan perubahan perilaku yang bisa diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan bisa terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang dapat menimbulkan hubungan perilaku aktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik.

Stimulans adalah lingkungan belajar anak, baik itu internal ataupun eksternal yang bisa menjadi penyebab belajar. Sementara respon merupakan suatu akibat atau dampak yang berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar memiliki arti sebagai penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecendungan perilaku S-R (Stimulus-Respon).

Teori Behavioristik

1) Lebih mementingkan faktor lingkungan

2) Menekankan pada faktor bagian

3) Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan menggunakan metode obyektif

4) Memiliki sifat mekanis

5) Mementingkan masa lalu

Karakteristik Teori Behavioristik

  1. Perubahan perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan
  2. Mementingkan bagian-bagian yang terpisah, ini berarti manusia terdiri dari bagian-bagian
  3. Mengamati perilaku manusia yang terjadi karena reaksi-reaksi yang dapat berpengaruh atau stimulus
  4. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar memiliki sifat mekanis. Hal ini berarti perilaku manusia tidak jauh berbeda dengan mesin dan gejala-gejala alam
  5. Perilaku manusia ditentukan oleh masa lalu. Hal ini berarti pengalaman-pengalaman yang sudah pernah terjadi akan mempengaruhi perilaku manusia
  6. Pembentukan perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh proses pembiasaan
  7. Ciri khas dalam penyelesaian masalah lebih banyak dilakukan dengan mencoba-coba atau trial and error

Para peneliti yang telah mengembangkan teori ini adalah Thorndike, Pavlov, Skiner, Gagne, dan Bandura.

  1. Edward Lee Thorndike (1874-1949) : Teori Koneksionisme

Thorndike memiliki profesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berasal dari Amerika. Ia lulusan S1 dari Universitas Wesleyen pada tahun 1895, S2 dari Harvard pada tahun 1896 dan kemudian meraih gelar doktor di Columbia pada tahun 1989.

Beberapa buku yang telah ditulisnya adalah Educational Psychology (1903), Mental and social Measurements (1904), Animal Intelligence (1911), Ateacher’s Word Book (1921), Your City (1939), dan Human Nature and The Social Order (1940).

Menurut Thorndike, belajar adalah sebuah peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut sebagai stimulus (S) dan respon (R). Stimulus sendiri merupakan suatu perubahan dari lingkungan eketernal yang menjadi sebuah tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat.

Sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang ditimbulkan karena adanya perangsang. Dari ekperimen kucing lapar yang dimasukkan ke dalam sangkat (puzzle box) diketahui agar tercapai hubungan antara stimulus dan respon, dibutuhkan adanya kemampuan dalam memilih respon yang tepat dan melalui usaha-usaha atau percobaan-percobaan (trials) kegagalan-kegagalan (error) dahulu. Bentuk yang paling dasar dari belajar adalah “trial anda error learning atau selecting and connecting learning” dan akan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu.

Maka dari itu, teori belajar yan dikemukaan oleh Thorndike ini biasa disebut dengan teori koneksionisme atau teori asosiasi. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan yang lumayan besar di dalam dunia pendidikan maka ia dinobatakan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.

  1. Ivan Petrovich Pavlov (1949-1936)

Ivan Petrovich Pavlov lahir pada 14 September 1849 di Ryazan Rusia yang merupakan desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan kemudian melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov pun lulus sebagai sarjana kedokteran dengan bidang dasar fisiologi.

Pada tahun 1884 Pavlov menjadi seorang direktur departemen fisiologi pada institute od Experimental Medicine dan memulai untuk melakukan penelitian tentang fisiologi pencernaan. Ia berhasil meraih penghargaan nobel pada bidang Pysiology or Medicine pada tahun 1904. Karyanya tentang pengkondisian ternyata sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Karya tulis yang dibuatnya adalah Work of Digestive Glands (1902) dan Conditioned Reflexes (1972).

Classic conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) merupakan sebuah proses yang ditemukan oleh Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral telah dipasangkan dengan stimulus bersyarat  secara berulang-ulang sehingga akan memunculkan reksi yang diinginkan.

Eksperimen-eksperimen yang telah dilakukan oleh Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpangaruh pandangan behaviorisme, yang dimana gejala-gejala kejiwaan sesorang bisa dilihat dari perilakunya.

Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran saja, peranan ataupun bicara, melainkan tingkat lakunya. Pikiran tentang tugas atau rencan baru akan mendapatkan arti benar apabila ia berbuat sesuatu (Bakker, 1985).

3. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990).

Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning.

Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”.  Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian,1970) 

B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.

4. Robert Gagne ( 1916-2002).

Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. Gagne pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika.

Ia kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori instruksionalnya untuk mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar berbasis multi media. Teori Gagne banyak dipakai untuk mendisain software instruksional. 

2. Pengertian Teori Belajar Kognitivisme

Teori Kognitif dipelopori oleh Jean Piaget (1896-1980). Pengertian Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya.

Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses

Ciri-Ciri Teori Belajar Kognitif (Rusman. 2015 : 52)

  1. erubahan perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam dirinya (nativistik)
  2. Mementingkan keseluruhan (holistik) dibandingkan bagian-bagian (Wholistik)
  3. Mementingkan peranan fungsi kognitif
  4. Mengutamakan keseimbangan dalam diri individu
  5. Perilaku manusia sangat ditentukan oleh masa kini
  6. Pembentukan perilaku manusia lebih banyak dipengaruhi oleh struktur kognitif
  7. Ciri khas dalam pemecahan menurut teori kognitif adalah adanya “insight”

3. Teori Belajar Konstruktivisme

Pelopor dari teori Konstruktivisme ialah Jean Piaget, Bruner, dan Vygotsky pada awal abad 20-an yang memiliki pandangan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif melainkan secara aktif. Konsep utama dalam teori konstruktivisme yaitu peserta didik akan aktif mencari untuk membuat pengertian tentang apa yang ia pahami. Hal ini memiliki arti bahwa belajar adalah sebuah kegiatan yang berbasis mencari tau secara mandiri, menyelesaikan masalah, menemukan.

Baca juga : Pengertian Hasil Belajar

Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.

Model-Model Pembelajaran yang berlandasakan teori konstruktivisme

1. Model Pembelajaran Reasoning dan Problem Solving
2. Model Pembelajaran Problem-Based instruction
3. Model Pembelajaran Perubahan Konseptual
4. Model Pembelajaran Grup Investigation
5. Model Pembelajaran Inquiri

Leave a Comment